PENDAMPINGAN KEGIATAN SHOLAT DAN MAGHRIB MENGAJI PADA ANAK-ANAK KELURAHAN PEJAMBON
IAIN SYEKH NURJATI CIREBON
Oleh:
Rohmah Fitri
Kelompok: 80 KKN-DR 2021 di Kelurahan Pejambon.
ABSTRAK
Kegiatan sholat dan maghrib mengaji merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak yang langsung didampingi oleh pengajar. Kegiatan ini ialah program rutin yang dilaksanakan setiap harinya, yang berguna untuk mendidik anak-anak menjadi generasi yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Penerapan ilmu agama sejak dini kepada anak-anak akan menghasilkan sesuatu yang baik pula untuk kedepannya. Dengan mempelajari ilmu agama tentunya akan membuat seseorang lebih dekat dengan Tuhan-Nya. Menjadikan pribadi yang lebih baik dan hidup yang lebih terarah. Dalam mempelajari ilmu agama sangat diperlukan adanya pendampingan atau seorang guru agar apa yang dipelajari dan ilmu yang didapat bisa dipertanggungjawabkan, serta jika ada yang menyeleweng ada yang meluruskan. Terutama pada pendampingan kegiatan sholat dan magrib mengaji yang diharuskan mempelajarinya dengan cermat dan teliti.
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan manusia, juga sebagai strategi dalam memajukan suatu bangsa, karena sistem pendidikan sangat berpengaruh dalam maju mundurnya suatu bangsa. Terutama pendidikan ilmu agama yang akan menjadi pedoman untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Pendampingan kegiatan sholat dan magrib mengaji merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas generasi bangsa yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt. Untuk menumbuhkan semangat dalam belajar sangat dibutuhkan pendampingan dalam melaksanakan kegiatan sholat dan maghrib mengaji. Peran sebagai seorang umat Islam dalam mendidik sangat penting untuk menjadikan generasi yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt, salah satunya mendidik kepada anak-anak untuk menjalankan sholat. Karena jika sejak dini sudah diterapkan bekal ilmu agama akan menjadikan seseorang lebih terarah dalam menjalani kehidupannya.
Setiap seorang muslim pasti berlomba-lomba untuk mengerjakan amal ibadah sebagai bekal untuk di akherat nanti. Membaca Alquran dicatat sebagai amal ibadah. Dari banyaknya bacaan, hanya membaca Alquran saja yang di anggap ibadah, sekalipun membaca tidak tahu maknanya, apalagi jika ia mengetahui makna ayat atau surat yang dibaca dan mampu mengamalkannya, pahala yang didapat lebih banyak. Adapun bacaan-bacaan lain tidak dinilai ibadah kecuali disertai niat yang baik seperti mencari Ilmu. Menurut para ahli ushul fiqh “Al-Quran adalah kalam Allah yang mengandung mukjizat (sesuatu yang luar biasa yang melemahkan lawan), diturunkan kepada penutup para Nabi dan Rosul (yaitu Nabi Muhammad SAW), melalui Malaikat Jibril, tertulis pada mushaf, diriwayatkan kepada kita secara mutawatir,membacanya dinilai ibadah, dimulai dari surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Nas.
Program maghrib mengaji menjadi salah satu cara yang efektif untuk menumbuhkan rasa semangat mengaji kepada anak-anak agar selalu dekat dengan Al-Quran. Dengan mengadakan kegiatan maghrib mengaji setiap harinya akan membuat anak-anak lebih lancar dalam membaca Al-Quran karena sering mengulang-ulang bacaan Al-Quran. Membiasakan mengaji sejak dini akan mendorong diri kita untuk selalu membaca Al-Quran.
METODE
Metode yang digunakan pada pendampingan kegiatan sholat dan maghrib mengaji yaitu menggunakan metode deskriptif berupa penelitian kualitatif dengan mengamati situasi sosial yang ada di lapangan. Diantaranya sebagai berikut:
1. Melakukan pendekatan terlebih dahulu dengan anak-anak, bersosialisasi juga dengan masyarakat agar bisa diterima dengan baik apa yang akan dilaksanakan kedepannya.
2. Meningkatkan kerjasama dengan pihak yang terkait, seperti ustadz, remaja masjid dan masyarakat lainnya.
3. Memodifikasi sistem pembelajaran Al-Quran, melalui program pendampingan maghrib mengaji yang dilaksanakan setiap hari setelah sholat maghri.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pengertian Sholat
Sholat merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanankan oleh setiap umat islam. Pengertian sholat dalam bahasa Arab yang berarti doa, seperti yang sudah tertera dalam firman Allah SWT Surah At-Taubah:103 yang artinya berdoalah untuk mereka yang sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketentraman bagi mereka, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. shalat mempunyai kedudukan yang sangat penting, shalat merupakan tiang agama, dan amal yang pertama kali dihisab oleh Allah pada hari kiamat serta merupakan wasiat terakhir Rasulullah Saw untuk umatnya, agar umat Islam tetap menjaga sholatnya. Begitu penting sholat dalam agama islam, oleh karena itu sebagai seorang muslim sangat diwajibkan untuk menjalankan sholat lima waktu. Seburuk dan sejahat apapun tindakan manusia, sholat harus tetap dijalankan. Ibarat sholat adalah wadah dari semua amal ibadah yang dilakukan. Sholat juga sebagai sarana komunikasi dengan Allah Swt. Sesulit apapun keadaan yang sedang dialami, dengan kita tetap melaksanakan Sholat hati akan jauh lebih tenang dan tentram.
Dengan adanya pembelajaran tentang praktek sholat, hal ini sangat memudahkan anak-anak dalam mempelajarinya secara detail, karena jika ada salah satu rukun sholat yang tidak dilaksanakan maka segala perbuatan dan perkataan dalam sholat yang apabila ditiadakan, maka sholatnya menjadi tidak sah. (Imran Efendy Hasibuan, 2008: 84-85). Menerapkan pembelajaran terhadap anak-anak tentang sholat tidaklah mudah, namun jika tidak diajarkan sejak kecil akan lebih susah lagi kedepannya. Meskipun anak-anak pada dasarnya ingin terus bermain, tidak masalah jika kita sebagai pengajar tetap bersabar dalam mengajarkan anak-anak agar selalu menjalankan sholat lima waktu. Dengan berbagai gerakan dan bacaan sholat yang cukup banyak, anak-anak lebih mudah dalam menghafal karena pada usia yang masih muda daya ingat mereka masih sangat kuat, disitulah kesempatan untuk terus menghafal dan menerapkan nilai-nilai yang baik seperti membiasakan diri menjalankan sholat lima waktu.
Dalam menjalankan sholat terdapat syarat-syarat sah nya sholat, seseorang yang yang melakukan sholat tetapi tidak memenuhi syarat-syarat sholat, maka sholatnya tidak diterima. (Syekh Syamsuddin Abu Abdillah, 2010: 67). Jadi, memang harus sedetail mungkin dalam memberikan informasi mengenai gerakan maupun bacaan yang terkandung di dalam sholat. Karena itu menentukan diterima tidaknya sholat.
b. Maghrib Mengaji
Mempelajari Al-Quran memanglah sangat penting karena al-quran adalah pentunjuk, bukan hanya untuk umat islam saja tetapi petunjuk bagi seluruh manusia bagi seluruh manusia melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Al-quran merupakan kitab suci umat Islam yang mempunyai banyak manfaat bagi umat manusia. Salah satunya yaitu sebagai pembeda atau pemisah antara yang hak dan yang batil, sehingga bisa mengetahui antara yang benar dan salah. Selain itu, Al-quran adalah sebagai obat dari berbagai penyakit, bukan saja penyakit fisik tetapi juga penyakit hati seperti iri, dengki, mudah marah, gelisah. Dengan membaca ayat-ayat al-quran hati akan menjadi lebih tenang. Sedangkan Al-Quran menurut istilah ialah firman Allah SWT. Yang disampaikan oleh malaikat jibril dengan redaksi langsung dari Allah SWT. Kepada Nabi Muhammad SAW, dan yang diterima oleh umat islam dari generasi ke generasi tanpa adanya perubahan. (Anshori, 2013: 18).
Adapun cara yang dilakukan agar anak-anak bisa tetap konsisten dalam melaksanakan kegiatan rutin setelah sholat maghrib, yakni mengaji. Yaitu dengan cara terus mengajak kepada anak-anak dan juga mengingatkan tentang kegiatan maghrib mengaji. Karena jika ada anak-anak yang sudah malas-malasan alangkah baiknya ditegur agar kegiatan mengaji tetap berjalan dengan lancar dan banyak anak-anak yang mengikuti. Apabila seorang anak tetap tidak ingin diajak mengaji, maka kita harus melakukan pendekatan yang lebih kepada anak tersebut, seperti sering melakukan obrolan bersama, bercanda bersama dan lainnya yang membuat perasaan anak tersebut menjadi nyaman terlebih dahulu. Karena ketika anak-anak sudah merasa nyaman, dengan sendirinya hatinya akan tergerak pula untuk melakukan kegiatan yang dia ingin lakukan.
Dengan adanya program kegiatan maghrib mengaji setiap hari, anak-anak jadi lebih bersemangat dan rajin mempelajari al-quran, mengetahui tentang hukum tajwid, memahami makna yang ada pada ayat-ayat suci al-quran serta anak-anak bisa mengamalkan apa yang terkandung dalam al-quran. Selain itu dengan adanya kegiatan maghrib mengaji masjid menjadi lebih ramai karena banyaknya antusias anak-anak yang mengikuti kegiatan mengaji. Masih banyak anak-anak yang kurang paham membaca Al-quran tentang panjang pendeknya bacaan maupun hukum tajwidnya. Oleh sebab itu kegiatan ini sangat di dukung oleh para orang tua dan masyarakat setempat karena sangat membantu dalam mendidik anak-anak. Dalam kesempatan ini, anak-anak sangat antusias mengikuti pembelajaran tentang kegiatan sholat dan mengaji yang diadakan di daerah mereka.
a. Tahap Perencanaan
Perencanaan pendampingan kegiatan sholat dan maghrib mengaji dapat dikembangkan dengan memperhatikan hal-hal berikut ini:
· Melakukan pendekatan kepada anak-anak agar yang apa yang disampaikan bisa ditangkap dan diamalkan dengan baik, yaitu dengan cara lebih terbuka, aktif, dan selalu bersemangat.
· Menerapkan nilai-nilai yang baik seperti disiplin, jujur, menolong sesama, dan juga rajin belajar serta rajin beribadah. Dengan menerapkan perilaku yang baik sejak dini akan membuat anak-anak tersebut tumbuh menjadi pribadi yang baik juga nantinnya.
· Memantau perkembangan anak-anak dengan cara terus menguji apa yang sudah diajarkan. Dengan hal ini dapat diketahui tentang perkembangan anak-anak sehingga bisa terus diarahkan jika ada yang belum memahami.
· Menentukan tahapan yang akan dilaksanakan.
b. Tahap Pelaksanaan
Pelaksanaan pendampingan kegiatan sholat dan maghrib mengaji kepada anak-anak dilakukan melalui kegiatan yang terprogram dan pembiasaan.
Kegiatan terprogram, contohnya yaitu menggali pemahaman anak-anak tentang sholat dan maghrib mengaji yang kegiatan ini didampingi oleh pengajar agar bisa lebih terarah. Karena ini adalah belajar tentang ilmu agama yang harus benar dan sesuai dengan ajaran yang disampaikan oleh orang-orang terdahulu. Dalam menggali pemahaman terhadap anak-anak sangat dibutuhkan contoh yang baik, karena apa yang kita lakukan mereka akan meniru jadi lakukan kegiatan yang baik dan bermanfaat. Seperti membiasakan diri untuk sholat lima waktu dengan tepat waktu dan rutin mengaji walaupun hanya beberapa ayat saja, membaca lebih banyak dan mengamalkan isi Al-quran juga sangat bagus.
Membangun rasa semangat belajar kepada anak-anak agar tidak gampang bosan ataupun merasa jenuh. Hal yang bisa dilakukan agar tidak merasa jenuh ketika sedang belajar yaitu bisa belajar sambil bermain atau bernyanyi, karena anak-anak sangat suka bermain, oleh sebab itu di sela-sela pembelajaran lebih baik diajak bermain namun masih dalam kegiatan belajar, seperti menghafal huruf hijaiyah dengan nada bernyanyi, main tebak-tebakan hukum bacaan tajwid dan juga memberi kuis berhadiah kepada anak-anak yang berguna agar lebih bersemangat dalam belajar dan juga bisa mengasah kecerdasan anak.
Mengajak anak-anak untuk selalu sholat lima waktu dan rutin mengaji. Misalnya ketika ada anak-anak yang masih bermain padahal sudah waktunya sholat, dengan cepat kita mengajak anak-anak tersebut agar segera melaksanakan sholat terlebih dahulu lalu dilanjutkan dengan mengaji. Dengan mengajak anak-anak untuk melakukan hal-hal yang baik, kita juga akan terbiasa melakukannya meskipun terkadang ada rasa malas dalam beribadah. Mengajak seseorang dalam kebaikan merupakan hal yang sangat terpuji, karena jika seseorang tersebut melaksanakan apa yang kita ajak, maka kita akan mendapat paha dan juga balasan yang baik pula.
Melatih kecerdasan anak-anak dengan cara sering memberi pertanyaan yang bertujuan agar anak-anak aktif dalam berfikir. Semakin banyak pertanyaan semakin bagus juga cara berfikir anak, karena dengan berfikir anak-anak akan semakin aktif dan rasa ingin tahunya lebih besar. Melatih kecerdasan dapat dilakukan sambil bermain agar anak-anak tidak merasa tertekan dan bosan. Dalam hal ini anak-anak sangat antusias untuk mengikuti sebuah permainan. Misalnya permainan yang dilakukan ialah mengulang materi yang sudah diajarkan lalu menananyakan kepada ana-anak didik apakah mereka mengingat apa yang sudah dipelajari atau tidak, jika anak-anak menjawabnya kurang tepat makan anak-anak tersebut akan mendapat hukuman ringan seperti bernyanyi dan menari. Namun, jika anak-anak menjawab jawaban yang benar maka akan ada hadiah untuk yang berani dan menjawab dengan jawaban yang tepat.
Kegiatan pembiasaan, dapat dilakukan melalui kegiatan rutin yaitu kegiatan yang dilakukan anak-anak di mushola secara terus menerus dengan konsisten setiap saat. Misalnya kegiatan maghrib mengaji yang dilakukan anak-anak setiap hari di mushola setelah sholat maghrib selesai. Juga melakukan sholat dengan tepat waktu, contohnya jika azan sudah berkumandang anak-anak dengan segera mengambil air wudhu dan bersiap-siap berangkat ke mushola untuk sholat berjamaah atau melaksanakan sholat sendiri di rumah. Ketika ada salah satu anak yang memilih untuk sholat di rumah, cara kita untuk memastikan anak tersebut melaksanakan atau tidak yaitu menanyakan kepadanya apakah ia sudah melaksanakan sholat atau belum. Hal ini sekaligus menanamkan sifat kejujuran pada diri seorang anak.
Adanya kegiatan yang spontan yang dilakukan oleh seorang pengajar yaitu ketika ada anak-anak bersikap yang tidak baik. Misalnya ketika sedang menjalankan sholat tetapi malah asik bermain sendiri dan berbicara dengan suara keras. Alangkah baiknya sebagai seorang pengajar menegur anak didiknya agar tidak melakukan tindakan seperti itu lagi. Menegur epada anank-anak juga harus dengan bahasa dan sikap yang lembut, karena jika menegurnya dengan cara kasar akan berakibat fatal, yang ditakutkan adalah tidak ada kemauan belajar lagi dan merasa tertekan dengan teguran yang kasar. Oleh karena itu menegur anak harus dengan cara yang baik agar suatu teguran yang kita sampaikan kepada anak bisa ditangkap dengan baik sehingga anak tersebt tidak akan mengulangu tindakan itu lagi. Contoh lainnya yaitu ketika kegiatan maghrib mengaji, banyak anak-anak yang sedang mengaji namun matanya tidak melihat ke Al-quran tetapi melihat teman-temannya yang sedang bermain, ada juga anak yang bermain pukul-pukulan yang mengakibatkan salah satu orang menangis. Melihat semua kejadian tersebut sebagai pengajar kita harus tegas namun tidak bersikap kasar dengan anak-anak. Langkah yang kita ambil yaitu menegurnya dengan cara yang baik.
Selain menegur perilaku yang buruk, ada juga sebagian dari anak-anak yang berperilaku baik, pada saat itulah kita sebagai pengajar harus memberika sebuah apresiasi atau pujian kepada anak-anak karena apa yang dilakukannya ialah hal yang harus dipertahankan. Contohnya ketika seorang anak yang mengajak teman lainnya untuk sholat berjamaaah di mushola atau ketika ada seorang anak yang ingin mengaji namun tidak membawa Al-quran kemudian anak ini meminjamkan Al-quran miliknya. Perilaku-perilaku seperti ini patut kita berika pujian, karena anak-anak ketika diberi pujian akan merasa senang dan lebih bersemangat.
Adapun keteladanan yaitu kegiatan yang dapat ditiru atau dijadikan sebagai panutan. Dalam hal ini sebagai seorang pengajar harus menanamkan nilai-nilai yang positif untuk para anak didiknya, karena anak-anak gampang sekali menirukan apa yang dilihatnya, maka dari itu kita harus menerapkan perilaku-perilaku yang baik seperti disiplin datang tepat waktu ketika ada sebuah kegiatan, berpakaian rapih dan sopan, berbicara yang lembut namun tegas, melaksanakan sholat dengan tepat waktu dan rutin mengaji. Dengan menerapkan keteladanan yang baik anak-anak juga akan menirukan hal-hal baik yang sudah kita contohkan. Seorang pengajar harus mempunyai semangat yang lebih besar untuk mengaja anak didiknya, harus mempunyai sifat sabar yang lebih luas, karena dalam mendidik anak bukanlah hal yang mudah, untuk dapat diterima oleh anak-anak kita harus lebih bersifat terbuka dan penuh kasih sayang agar mereka nyaman ketika belajar dan tidak ada rasa tertekan.
C. Penilaian
Penilaian bertujuan untuk mengetahui sejauh mana anak-anak telah mengikuti kegiatan atau pelajaran yang telah disampaikan. Penilaian dapat dilakukan secara menyeluruh artinya penilaian yang mencakup dari awal sampai akhir tentang perkembangan sikap dan perilaku anak-anak, yaitu dengan cara terus memperhatikan sikap dan perilaku anak-anak terdapat perubahan yang lebih baik atau tidak.
Penilaian juga bersifat obyektif yaitu sesuai yang ada pada diri anak-anak yang masing-masing mempunyai keunikan dan kelebihan tersendiri. Seorang anak tidak bisa dikatakan bodoh ketika tidak menguasai satu mata pelajaran, bisa jadi ia memiliki keunggulan di bidang lain. Karena setiap anak mempunyai kesenangannya sendiri. Dari kesenangan di dalam bidang tersebut, sebagai seorang pengajar hendaknya mengarahkan agar dapat tersalurkan bakat atau kelebihannya.
KESIMPULAN
Pendampingan kegiatan sholat dan maghrib mengaji pada anak-anak sudah seharusnya diterapkan, karena di era pandemi sekarang pendidikan kurang stabil yang mengahruskan anak-anak belajar di rumah. Hal ini kurang efektif dalam memajukan pendidikan generasi bangsa. Apalagi pendidikan tentang ilmu agama islam seperti sholat dan maghrib mengaji. Dengan adanya pendampingan kegiatan sholat dan maghrib mengaji pada anak-anak setidaknya itu bisa membantu perkembangan anak-anak menjadi pribadi yang lebih baik.
Dengan diadakannya kegiatan sholat dan maghrib mengaji pada anak-anak, orang tua merasa senang karena ada yang mengajari tentang ilmu agama islam. Anak-anak juga lebih bersemangat dan rajin dalam beribadah seperti melaksanakan sholat tepat waktu dan mengaji rutin setiap harinya. Dengan demikian generasi bangsa akan menjadi lebih maju dan menjadi generasi yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.
SARAN
Memperbanyak pengajar Al-Quran, karena masih minimnya pengajar ngaji di mushola Babussalam kelurahan Pejambon. Dengan adanya pengajar Al-Quran, anak-anak bisa lebih terpantau perkembangan mengajinya, juga menjadi lebih rajin dalam mempelajari Al-Quran. Karena dengan kurangnya pengajar akan menghambat perkembangan anak-anak dan anak-anak akan terus bermain sepanjang waktu tanpa ada yang mengingatkan.
Membangun TPA di Mushola Babussalam, karena tidak adanya TPA membuat anak-anak hanya ingin bermain dan melupakan pelajaran. Seandainya TPA sudah dibangun dan aktif insyaAllah anak usia SD sampai SMP bisa membaca Al-Qur’an dan bisa belajar Pendidikan lainnya seperti sejarah pengetahuan islam dan pelajaran agama lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abdillah, Syekh syamsuddin abu. Terjemahan Fathur Qarib (Pengantar Fiqih Imam Syafi’i, (Surabaya: Mutiara Ilmu 2010)
Ali, al-Subhani Muhammad. Al-Tibyan Fi Ulum Quran, (Bairut: Dar al-Irsyad, 1970).
Anshori. Ulumul Quran, (Jakarta: Rajawali Press, 2013).
Hasibuan, Imran Efend. Sholat Dalam Perspektif Fikih Dan Tasawuf, (Pekanbaru: CV. Gema Syukran press, 2008) cet. Ke 2.
Taqiyuddil Al-Husni Abu Bakar Muhammad bin Husaini Al Husni Assyafi’i, Kifayatul Akhyar Fi Hilli Ghaayatul Ikhtisor, (Jeddah: t.t ).
TM Hasbi, Ash-Shiddieqy. Pedoman Shalat, (Jakarta: Bulan Bintang, 1951).
Komentar
Posting Komentar